Keunggulan Honda Brio Menjadi Andalan PT HPM

By | 2020-06-10T11:39:54+00:00 June 10th, 2020|Velg Mobil|

Penjualan Honda Brio di Indonesia masih diandalkan oleh PT HPM

Honda Brio Masih Jadi Andalan Honda di Tanah Air – Tidak dapat dipungkiri bahwa hingga saat ini, Honda Brio adalah tupe LCGC (Low Gren Gren Car) yang juga disukai oleh konsumen Indonesia.

Karena itu, tidak mengherankan jika PT Honda Prospect Motor (HPM) masih mengandalkan Honda Brio pada tahun 2020. Tidak ada lagi yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi pasar, yang hingga saat ini masih besar di pasar negara.

Honda Brio Masih Jadi Andalan Honda di Tanah Air

Jika Anda melihat rekam jejaknya, mobil LCGC buatan Honda dilaporkan telah memberikan kontribusi penjualan yang cukup memuaskan, yaitu 35% dari total penjualan mobil Honda di Indonesia. Atau dengan kata lain, Brio Satya telah menjual 149.439 unit pada 2019.

Terkait hal ini, Yusak Billy sebagai Business Innovation & Sales Mrketing Director PT HPM berkomentar bahwa pasar mobil LCGC masih dianggap sangat penting. Bukan tanpa alasan mengingat kontribusinya masih di kisaran 21% dari total penjualan mobil otomotif nasional.

Nah, dari semua penjualan mobil LCGC, Honda Bureau sebenarnya memenangkan 25% saham sekaligus menjadi mobil LCGC terlaris di pasar otomotif Indonesia.

"Sebagian besar Brio RS adalah loyalis Honda, tetapi jika LCGC setengah, itu adalah pembeli pertama yang naik kelas dari dua roda. Kami mendukung pemerintah untuk LCGC," kata Yusak, bersama dengan CR-V 20 Tahun. Petualangan Hebat di Bandung pada Selasa malam (22/1/2020).

Mobil LCGC terlaris dari Honda tidak terlepas dari keunggulan Honda Brio itu sendiri. Di mana, mobil ini memang memiliki kemampuan menekan efisiensi konsumsi bahan bakar maksimal dan harga jualnya juga cukup bersahabat.

Untuk alasan ini, tidak mengherankan bahwa Honda Brio telah menjadi mobil andalan PT HPM mengingat telah menjadi salah satu produk ekspor paling diminati di pasar luar negeri.

"Kita bisa ekspor karena harga kompetitif. Nilainya pada 2019 adalah Rp3,4 triliun, naik dari 2018 yang bernilai Rp2,8 triliun karena pada waktu itu kita tidak mengekspor CBU," tambah Yusak Billy.

About the Author: